enaknya jadi dokter kandungan bag. 3



Pada bagian ketiga ini aku ingin menggarisbawahi komentar salah satu bawelers yang menyatakan bahwa “kalau isteri ke dokter kandungan, harus didampingi karena bisa-bisa di”kerjain” sama dokternya”. Itu betul sekali teman, jangan sekali-kali percaya 100% dengan dokter kandungan laki-laki, apalagi kalau dokternya masih muda dan tampan. Terlebih lagi kalau isteri anda termasuk kategori isteri yang genit dan menarik, hmmm... jangan salahkan siapa-siapa kalau isteri anda ketagihan diperiksa vaginanya oleh sang dokter yang muda dan tampan.
Pengalaman ketiga aku ini terkait dengan itu. Intinya sih setelah praktek dua tahun sebagai ginekolog, informasi mengenai diriku sebagai dokter kandungan yang tampan menyebar dari mulut ke mulut ibu-ibu. Maka 2 dari 5 pasienku adalah ibu-ibu yang penasaran dengan gosip itu. Sebagian besar dari ibu-ibu yang datang karena hasutan temannya itu tidak diantar oleh suaminya dan alasan konsultasinya klasik... pap smear dengan harapan bisa aku obok-obok. Sesuai prinsip marketing, maka aku sedapat mungkin memberikan kepuasan bagi customerku itu. Bagi ibu-ibu yang datang sendirian dan memang dengan tujuan agar punya pengalaman “dipegang-pegang” oleh dokter muda yang tampan, maka aku dengan sengaja menyentuh klitorisnya setiap pemeriksaan vagina. Alhasil, 70% dari ibu-ibu itu meraih orgasmenya ketika tanganku yang seharusnya memeriksa vaginanya justru menjalar-jalar liar dan menekan-nekan titik syaraf birahi di liang vaginanya. Ada yang sok cool, tanpa ekspresi, ada juga yang malu dan mengalihkan wajahnya. Namun tak sedikit yang dengan berani mengeluarkan lenguhan kenikmatan ketika orgasme itu datang.
“Okkkhhhh... dokterrrr... saya diapain....”, begitu biasanya mereka melenguh sambil melejat-lejat kenikmatan. Kalau pasienku itu masih menarik, apalagi seksi dan genit, maka aku memberanikan diri meraba-raba bagian tubuhnya yang lain. Salah satunya adalah seorang ibu muda berusia 34 tahun bernama Ayu Vitria Sari.
Ayu Vitria Sari, seorang ibu muda yang chubby, agak gemuk, namun tidak gendut. Awalnya dia datang ditemani suaminya. Namun dari ceritanya tentang rekomendasi temannya dan wajahnya yang manis namun genit itu, aku segera mengklasifikasikan Ayu dalam daftar “special customer”ku, . Apalagi alasan datangnya juga klasik: pap smear...
Dugaanku tak keliru, karena begitu tanganku merogoh liang vaginanya, dapat kurasakan upaya Ayu menggerakkan dinding vaginanya untuk menjepit jariku. Wajahnya sih kelihatan cool, maklum di situ ada suaminya, namun aku sudah cukup pengalaman dengan ibu-ibu seperti Ayu ini. Sebagai responnya, aku meraba dan menekan titik syaraf birahi yang sering disebut g-spot di vagina Ayu. Wajah ibu muda itu agak sedikit berubah, namun tetap berusaha cool dengan cara mengobrol dengan suaminya. Aku sangat paham isyarat itu. Dia ingin mengalihkan perhatian suaminya dari tindakanku, maka aku pun segera mengerahkan kemampuan jariku mengocok dan menekan-nekan vaginanya hingga tak sampai 5 menit, ibu muda itu sudah orgasme. Vaginanya melejat-lejat dan basah, sementara wajahnya juga agak memerah, namun dengan sangat piawai dia menutupi kenikmatan itu dari suaminya.
Ibu Ayu yang chubby dan bahenol itu dalam waktu dua hari kemudian sudah menelponku.
“Dokter... saya mau periksa lagi boleh enggak?”, begitu pertanyaannya di telepon dengan suara genit.
“Ya boleh dong Bu, silahkan... dengan suami lagi?”, tanyaku menggoda.
“Ya enggak dong... sendiri aja, cuma... aman enggak sih?”, tanyanya agak khawatir.
“He3x... kalau mau aman, periksanya di apartemen saya Bu...”, aku dengan agresif menawarkan lebih.
“Ihhh... dokter!”, terdengar jeritan manja dari Ibu Ayu, namun segera dilanjutkan dengan pertanyaan mengenai alamat apartemenku. Dasar ibu gatelan... he3x....
Singkat cerita, siang itu, ketika jam istirahat, aku pulang ke apartemen karena sudah appointment dengan Ibu Ayu yang bahenol itu. Sebagai penghargaan bagi wanita itu, aku menyiapkan pizza dan minuman ringan untuk hidangan.
Tepat pukul 12.30, pintu apartemenku diketuk dan dengan penampilan yang sok alim, Ibu Ayu berdiri di depan pintu dengan ***** ungu dan baju terusan yang juga berwarna ungu.
Tanpa basa-basi aku mempersilakan wanita bahenol itu untuk duduk dan menawarkan pizza dan minuman ringan. Alhasil dalam waktu singkat kamu sudah akrab dan tanpa canggung dia mencopot jilbab ungunya sehingga wajah manisnya semakin cantik dengan rambutnya yang panjang tergerai.
Jujur saja, baru pertama kali ini aku berurusan dengan wanita ****** sehingga ketika Ibu Ayu mencopot *****nya saja sudah membuatku terangsang.
“Mbak Ayu... anda cantik sekali.. dengan warna ungu sangat serasi...”, pujiku.
“Ihh... bisa aja dokter... daleman juga ungu loh... hi3x...”, canda Ibu Ayu sambil berdiri dam menarik gaunnya ke atas, memperlihatkan pahanya yang putih, mulus dan bahenol sampai ke celana dalamnya yang berwarna ungu.
“Dalemannya ungu juga lho... hi3x...”, wanita montok itu dengan murah hati memperlihatkan keindahan bagian bawah tubuhnya padaku.
“Wowww....” sejenak aku hanya melongo takjub. Namun segera aku beranjak dari tempatku menuju Mbak Ayu dan memeluk pahanya yang montok. Kubelai paha putih yang montok itu dengan penuh kemesraan hingga menemui gundukan di tengahnya yang ditutupi CD berwarna ungu.
“Hmmm... enggak sabar saya mau periksa yang ini...”, kataku menggoda sambil mencium bagian selangkangan Mbak Ayu.
“Silahkan dokter ganteng...”, katanya manja”Terserah dokter mau apain memek saya...hi3x...”.
Aku tak menduga kalau ibu muda yang sehari-hari b***** itu ternyata sangat enteng mengeluarkan kata-kata jorok dan dengan mudah menyerahkan kehormatannya untukku.
Aku tentu tak ambil pusing. Dalam pikiranku hanya satu... menikmati apa yang sudah ditawarkan oleh Mbak Ayu. Dengan perlahan aku melingkarkan tanganku hingga aku bisa meraih bongkahan pantatnya yang bahenol, lalu kuremas-remas pantat itu sembari menelusuri celana dalan ungu itu dengan wajahku.
“Hmm... dokter hebat...”, Mbak Ayu memejamkan mata menikmati setiap gerakanku. Tangannya memegang dan memijat-mijat kepalaku.
Sebentar saja celana dalam ungu itu sudah menceplak belahan labium vagina karena cairan vaginanya sudah membasahinya.
“Wahh... udah basah Mbak, saya jilat ya...” pintaku.
“Iya... silahkan dokter.... jilat... dan emut klitoris saya...”, Mbak Ayu menjawab dengan satu gerakan memeloroti celana dalam ungunya. Wajahku segera menyerbu ke bukit kemaluan montok yang ditumbuhi sedikit rambut pubis itu. Mbak Ayu tipe wanita yang sangat merawat daerah genitalnya. Pubis yang tipis itu pertanda dia rutin mencukurnya dan ketika hidungku mendekat ke liang vaginanya, tercium aroma daun sirih yang membuat vaginanya seperti hidangan kelas mewah ala koki hotel bintang lima.
Bukit kemaluannya yang chubby membuat belahan labiumnya seperti kue apem yang sangat empuk. Rambut pubisnya yang tumbuh tipis seperti hiasan di atas kue itu dan lelehan cairan vaginanya seperti krim yang menjanjikan kenikmatan cita rasanya. Sementara aroma daun sirih yang segar seperti memadukan cita rasa dengan aroma kenikmatan. Sebuah aurat yang sempurna.
Sejenak kemudian aku sudah seperti anak kecil yang baru saja dibelikan ice cream oleh ibunya. Lidahku menari-nari sepanjang labium sampai ke klitoris. Sesekali aku mencium dan bahkan mengulum klitorisnya yang memang berukuran agak besar.
“Ohhh... nikmatnya.... erghhh”, Mbak Ayu menggelinjang dan mendesah-desah sambil berdiri.
“Mau sambil duduk aja Mbak... biar lebih relaks”, aku menawarinya.
“Iya... kalau berdiri bisa pegel..” Mbak Ayu mengiyakan sambil menatapku”Tapi please deh... masa’ dokter masih pakaian lengkap, hi3x....”
“Mau yang mana yang saya lepas?” godaku.
“Hmm... bawahnya duluan deh, mau lihat.... penasaran, hi3x...”serunya genit sambil meraba batang penisku yang sudah besar dan keras.
“Kaya’nya sih gede nih, saya yang buka deh...”, sejurus kemudian Mbak Ayu sudah asyik membuka ikat pinggangku, melepas ritsluiting dan menarik celana panjangku sehingga tinggal celana dalam yang tak mampu menutupi besarnya penisku.
“Wow... mantap...”, Mbak Ayu menatap dengan nanar dan dengan liar langsung menarik celana dalamku sehingga penisku yang sudah dari tadi mengeras mengacung denagn kepala penis yang menghadap ke atas.
“Gila... botak nih ******.... hi3x...”, Mbak Ayu terkekeh girang melihat penis dan skrotumku yang bersih dari rambut pubis. Hanya tersisa sedikit rambut di atas penisku dan itupun aku cukur dengan rapi.
“Terawat lah Mbak... enggak kalah sama punya Mbak”, candaku.
“Iya... keren..”, Mbak Ayu menatapku manja dengan menggigit bibir bawah pertanda minta dicium. Aku segera menjawabnya dengan menyergap bibir itu dan sejurus kemudian kami sudah saling berciuman bibir dan bersentuhan lidah.
“Hmmm... dokter.... please entot saya ya.... memek saya gatel bangetttt...”, kembali wanita bahenol yang sehari-hari berjilbab itu mengeluarkan kata-kata jorok yang menurutku sangat seksi. Tangannya tak pernah lepas dari menggenggam penisku seakan tak mau kehilangan organ reproduksi itu.
“Mbak, saya jadi haus... boleh dong nyusu...”, candaku sambil meremas buah dada besar di balik baju terusannya.
“Ihhh... kalau memek, saya bisa bangga dokter, tapi kalo toket... udah agak kendor.. maklum anak saya udah dua”, katanya agak malu.
Aku tak perduli, tanganku dengan agresif membantu wanita itu menelanjangi dirinya sehingga kini kulihat bra ungu yang mewadahi susu besar yang memang agak kendor itu. Tapi sumpah, bagiku tetap saja merangsang, karena biar agak kendor, tapi ukurannya besar. Satu2nya kekurangan Mbak Ayu bagiku adalah lipatan selulit di perutnya. Tapi... aku kan mau susu dan apemnya, peduli apa dengan perutnya.
Sejurus kemudian akau sudah melepas bra ungu berukuran besar itu dan menciumi buah melon dengan berakhir di puting susunya yang sebesar ibu jari anak-anak itu. Aku mengemut puting besar berwarna coklat itu dengan penuh nafsu, menggesek-gesek dengan gigiku sembari memilin-milin puting yang lainnya.
“Okhh... dokterr..... isep terusss.... emuttt....okhhh... enakkk”, Mbak Ayu menjerit-jerit kecil, terutama tatkala tanganku yang satu dengan kreatif membelai-belai klitorisnya sambil terus mengulum dan memanjakan buah melonnya yang besar. Maka hanya butuh lima menit untuk membuat wanita itu mencapai orgasme pertamnya.
“Dokter... sayaa..... puassss..... okhhhhh”,Mbak Ayu menggelinjang hebat, melejat-lejat sambil memelukku erat.
Orgasme yang berlangsung hanya semenit itu membuat wajahnya memerah dan nafasnya tersengal.
“Dokter hebat... enak banget...” serunya manja sambil menggigit bibir bawahnya, tanda minta dicium lagi. Aku pun menyosornya dan kami berciuman lagi. Birahiku yang masih membara mendorongku untuk melakukan penetrasi di vaginanya.
“Sekarang saya masuk ya...”, pintaku basa-basi sambil menghunus penisku ke arah selangkangan terindah yang pernah kulihat itu.
“Iya dokter... entot sayaa...”, jeritnya genit. Pahanya agak dibuka sehingga batang penisku dengan mudah melakukan penetrasi ke dalam liang yang sudah becek itu. Setelah masuk sampai dalam, aku menarik penisku perlahan hingga keluar dan kemudian masuk lagi juga dengan perlahan, seperti membelai-belai dinding vagina Mbak Ayu. Begitu berulang-ulang, sampai wanita itu kembali histeris dengan orgasme keduanya.
“Gilaaaa.... enak bangettt....okhhh.... dua kosong dokter....”, jeritnya girang.
Aku terus memompa vaginanya, tak mau melewatkan momen bersejarah buatku , yaitu menumpahkan sperma ke dalam liang vagina wanita ***** yang haus seks.
“Dokter... dokter mau nyemprot di dalam?”
Brengsek, pertanyaan itu membuyarkan semuanya. Dengan kesal aku menarik penisku dari vaginanya.
“Ohh... maaf dokter....maaf” Mbak Ayu begitu tampak bersalah.
“Kalo gitu... masuk lagi dokter... semprot aja.... silahkan”, Mbak Ayu membuka lebar pahanya, mempersillahkan penisku untuk kembali mengocok memeknya yang sudah becek. Dengan senang hati aku kembali menggenjotnya sampai akhirnya ketika kurasakan spermaku sudah berada di ujung, dengan ikhlas aku menarik keluar penisku sehingga spermaku terpancar di atas perut hingga bagian atas vaginanya.
Mbak Ayu yang merasa bersalah dengan cepat menyosor penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya sehingga sebagian spermaku mengalir dalam mulutnya. Dengan penuh perasaan, dia menyepong penisku seakan memeras semua cairan spermaku. Jorok sekali melihat cairan putih spermaku mengalir keluar dari bibirnya.
Mbak Ayu.... besok-besok kalau kita ML, please kasih tahu kalo enggak mau disemprot

1 komentar: